Pokerace99
Selingkuh

Cerita Dewasa – Kisah Hidup Tania – Part 2

Situs Judi Online Terpercaya dan Terlengkap

Cerita Dewasa – Kisah Hidup Tania – Part 2

Baca part-1

Kuserahkan Cinta dan Masa Depanku Pada Reza. Namun Ternyata…

Dibawah rindangnya dedaunan pohon beringin ini, aku tertunduk lesu. Membayangkan pertanyaan yang tak sempat terungkap. Serta jawaban yang tak pernah terlukis di bibirku yang telah mengering ini. Saat ini aku dilanda kegalauan yang teramat sangat, kebimbangan, serta rasa penyesalan yang tak sanggup aku gambarkan.

Setelah kejadian memalukan itu. Kini aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan segala kenangan buruk yang pernah terlalui bersama Zul. Pria yang sempat mengisi hatiku dengan cinta. Juga bertekad pergi jauh dari kehidupan mereka. Dari bibiku yang telah tersakiti karena perselingkuhan kami. Walaupun sempat aku mengucap maaf, namun aku yakin pasti masih perih baginya.

Kabar tentang perselingkuhanku dengan Mangci Zul ternyata tak hanya diketahui oleh kami saja. Namun, ternyata karena amarahnya yang tak tertahan, bibi sempat menelpon ibuku di M*rt*p*ra. Mengadukan perbuatanku dengan Mangci. Bahkan tragisnya, cerita ini juga dengan cepat menyebar ke kerabat lain. Karena sempat bibi bercerita soal masalah ini ke sepupunya, yang tak lain juga kerabatku di kampung sana. Dan, seperti sudah kuduga. Hasilnya adalah rasa malu yang teramat sangat, seperti aib yang mencoreng muka ibuku.

Ingin rasanya kutumpahkan air mataku. Bila kembali aku mengingat, suara tangis dan ucapan ibu saat tadi langsung menelponku, ketika tahu terjadi tragedi ini. Namun ada sayatan kata yang paling terngiang ditelingaku. “Tania…kamu pengen ibu cepet mati…. !“.

Cepat-cepat untuk sementara kutepiskan rasa itu, karena aku disadarkan oleh rasa haus yang mulai merasuk di tenggorokan. lalu kuputuskan untuk meneguk segelas fr*sh T*a ditambah es batu. Yang kubeli dari Mamang-mamang yang memangkalkan gerobaknya tak jauh dari tempatku duduk. Segarnya, lumayan mendinginkan hati dan otakku yang kebetulan panasnya mungkin setara dengan panasnya aspal jalan protokol yang sedang diperbaiki ini.

Rupanya segelas minuman dingin tadi juga membantu mengembalikan sedikit akal sehatku yang masih tersisa. Dan hasilnya aku tersadar kembali, untuk memikirkan kemana aku akan tidur malam ini.

Cindy adalah satu nama yang langsung terbersit dibenakku saat itu. Ya, Cindy. Adalah teman baik yang selalu ikhlas membantuku kapan saja. Saat terkadang aku sedang dihinggapi masalah khas seorang mahasiswi perantau, sepertiku. Yaitu kekurangan pasokan uang dari ibuku di kampung. Yang sehari-hari membuka kios sembako kecil-kecilan di pasar M*rt*p*ra.

Tentu dengan penghasilannya yang tak menentu, terkadang agak tersendat pula suplay dana kepada anaknya yang sedang berkuliah jauh di pulau seberang. Dan dikala masa paceklik seperti itu, Cindy-lah yang selalu ikhlas membantu, sekedar untuk operasional kuliahku ke kampus sehari-hari. Walaupun sebenarnya bisa saja aku meminjam atau meminta uang ke bibiku. Namun malu rasanya. Karena, mereka mau menampungku saja, aku sudah bersyukur. Tak sanggup rasanya bibir ini mengucap untuk meminta lebih.

Padahal faktanya, justru penyebab aku duduk di pinggir jalan dan kepanasan seperti saat ini, adalah kebodohanku yang telah meminta suaminya! Ya. Dan itu dalam arti sebenarnya. Ah sudahlah, kini kekhilafan itu sudah terjadi. Dan aku harus siap menanggung akibatnya.

Oh ya, seperti sebelumnya kusampaikan, Cindy juga-lah yang selama ini rela meminjamkan kamar kost-nya kepadaku, saat aku dan Manci Zul ingin melampiaskan kerinduan dan birahi kami. Kini, semoga dia tak merasa direpotkan bila aku meminta bantuannya untuk beberapa saat menampung ‘tuna wisma’ sepertiku ini. Harapku.

Langsung seketika itu kuambil Hp-ku dan kutelpon Cindy. NSP “Kasih Tak Sampai” milik grup band Padi, menyambutku. Dengan dentingan violin menyayat hati, kudengar di intronya. Oh Tuhan, kebetulan yang tak kuharapkan. Kenapa NSP ini justru semakin menggiringku kedalam galau. Seolah takdir sedang mentertawakanku, karenanya.

“hai mbak bro…, ada apa nih cyiin?”. Suara renyah khas Cindy terdengar menyapa dari ujung telepon.
“Lagi dimana Bu..?” jawabku lirih.
“Nah lho… napa suara lo galau gtu say…? Gw lagi di P nih, lagi balik dulu. Kakak sepupu gw kawin. Ada apa gtu cyiin?”, Tanya Cindy kembali.

“Aduuuh… lo lagi di P? kakak sepupu lo lagi kawinan? Aduuuh…. Tadinya hari gw mau numpang nginep di tempat lo… gw…” dan bla.. bla..bla…
Hingga akhirnya, “oke ya udah, besok pagi gw langsung balik ke S. udah tenang aja, besok lo ke tempat gw aja. Tapi soal hari ini, maafin gw ya say.. sabar ya…”. Ucap Cindy padaku.

Dan kujawab dengan lirih, “iya say.. gpp, makasih ya…”.
Cobaan apa lagi ini buatku. Apa ini termasuk imbalan atas kesalahanku kepada bibi, bathinku. Sesaat aku kembali gamang. Lalu, kembali pertanyaan itu muncul, tidur dimana aku malam ini..??

Entah ide dari mana, kenapa tiba-tiba terlintas di kepalaku untuk tidur di salah satu masjid atau mushala saja. Mungkin cukup aman fikirku. Tapi dimana?. Itu permasalahannya. Hingga saat itu aku melirik ke salah satu arah. Satu tempat terlihat ujung jalan sana. Nah itu dia, yakinku. SPBU !

Sambil menunggu malam, karena tak enak fikirku kalau aku ke SPBU 24 jam itu saat ini. Akhirnya kuputuskan untuk mampir dulu ke Mal S. Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam, akupun melangkah menuju ke SPBU. Untuk numpang tidur malam ini, di mushalanya.

Pagipun datang. Cukup nyenyak aku tidur malam ini. Hingga aku dikejutkan oleh bunyi panggilan telepon yang membangunkanku. Dan itu dari Cindy. Kuangkat, dan aku tahu dari pernyataan Cindy, Bahwa syukurlah, kini Cindy sudah datang dari P. dan menungguku di kost-annya. Dan akupun langsung bergegas meluncur kesana. Setelah kubersihkan diriku terlebih dahulu di toilet SPBU ini.

Singkatnya, Cindy mengijinkan aku untuk tinggal bersamanya di kost-an. Syukurlah, karena untuk sementara aku bisa terlindung dari panas dan hujan. Dan juga tentunya dari ketelantaran. Untuk sekedar tahu, kost tempat tinggal Cindy adalah kost yang cukup bebas.

Karena disini tinggal secara bersama-sama penghuni lelaki dan perempuan. Tak ada batasan apapun. Karena kebetulan Si pemilik kost-an tak menetap disini. Paling-paling hanya datang saat menagih uang bulanan. Tak masalah fikirku. Toh aku sudah tahu. Karena sering ‘main’ disini.

Namun ada hal yang sering membuatku risih adalah, terkadang ada saja penghuni kost-an cowok yang genit menggodaku. Tak segan mereka bersiul nakal, atau ada pula yang sampai sedikit menggesek-gesekkan “anu’nya di pantatku yang montok dan menggiurkan ini, saat kami tak sengaja berpapasan di lorong sempit menuju ke kamar mandi umum.

Lalu, ada juga yang bahkan berani untuk mencolek-colekku. Dari awalnya hanya lengan, hingga mulai berani agak kearah dalam di sekitar pinggir dadaku. Tentu saja beberapa kali yakin kurasa, tangan mereka sengaja menyenggol tokedku. Dengan muka tak bersalah, sialnya mereka lalu ngeloyor pergi.

Yang membuat aku tak tahan adalah, satu kali kupergoki ada salah seorang penghuni kost laki-laki yang mengintipku mandi. Karena kebetulan posisi kamar mandi umum yang berjumlah 3 ruangan ini hanya bersekatkan dinding setinggi 2 meter saja. Tentu masih memudahkan para lelaki iseng untuk mengintipku dengan cara naik keatas bak mandi. Aku tahu apa yang diharapkan mereka, aku sadar, dengan bentuk tubuhku seperti ini, yang sintal nan menggoda.

Dengan sepasang payudara yang indah dan montok. Tentunya mata lelaki mana yang tak ingin menikmati. Mungkin juga karena kebiasaanku berpakaian, yang sedikit cuek. Terkadang hanya menggunakan Hot pantz dan kaus ketat saja saat dikamar atau saat sekedar berbelanja di toko depan. Yang tentunya akan memperlihatkan dengan jelas setiap lekukan tubuhku secara syur. Pastinya kesempatan itu digunakan oleh mereka untuk berfantasi menelanjangiku.

Dan buktinya adalah saat ini. ketika aku sedang asik-asiknya membasahi tubuhku, saat sedang membasuhnya dengan sabun cair nan lembut. Saat aku mengelus-elus dengan manja gundukan payudaraku sambil bersenandung lirih. Rupanya si Ferdi, salah satu penghuni kos yang kamarnya di ujung lorong, sedang memindik-mindik, menongolkan kepalanya dari balik dinding. Aku merasa diintip ketika, tak sengaja sedikit kudengar suara desahan yang aneh, lalu refleks kupalingkan wajahku kearah suara itu. Dan..

Selamat datang di Ceritadewasa.gratis!

Untuk melanjutkan membaca cerita-cerita yang ada di situs ini, silahkan like atau follow salah satu media sosial kami terlebih dahulu.